Hadirnya Instalasi Pengeringan Gabah….apakah bisa mengurai keruwetan masalah petani ?

Masalah yang di hadapi petani memang sangat multi komplek. Pernah dengar ga? petani mengeluh tidak bisa membeli berasnya sendiri, justru malah nempur (istilah jawa: utang dulu) beras ke selepan selepan yang menjadi langganannya. Sungguh ironis, para petani yang memproduksi berasnya sendiri malah kesulitan untuk membelinya.

Yanga saya tahu pertama adalah masalah kelangkaan pupuk. Pupuk menjadi sesuatu yang mutlak saat produksi berlangsung. Unsur hara yang terkandung pada tanah milik petani sudah tidak bagus lagi, jelas bahan kimia yang menyebabkan hal itu. sehingga tanah mengalami ketergantungan pada pupuk.

Masalah kedua adalah sistem distribusi pupuk yang telah di buat sedemikian ruwet, sehingga bukan mengunungkan petani, namun justru menguntungkan beberapa orang saja. Memang pupuk di kalangan umum sengaja di sembunyikan sehingga langka dan harganya bisa melambung.

Pengijon menjadi masalah berikutnya, pengijon sengaja menggelontorkan utang dengan bunga yang lumayan. Sehingga pada waktu panen tiba para petani tidak bisa memberi nilai tawar yang bagus terhadap berasnya. Karena apa?, ya karena iya ingin dengan cepat bisa menutup utangnya.

Pengijon sengaja menawar harga beras dengan harga di bawah bandroll gabah kering yang di tepapkan pemerintah, yaitu duaribu tujuh ratus rupiah. Pengijon menawar harga berkisar sekitar duaribu tigaratus rupiah. Harga tersebut tidak bisa ia tolak, karena jejaring pengijon sudah cukup menggurita.

Musim kemarau panjang juga terus menguras kocek petani dalam rangka mencukupi kebutuhan air, ia terpaksa menyewa pompa, membeli solar. Karena apa?…. ya karena sisem irigasi yang sudah di turunkan dari tahun tahun masa orde baru sudah tidak berfungsi lagi,,, banyak instalasi pengairan sudah macet.

Nah hadirnya Instalasi pengeringan gabah yang di bangun oleh perusahaan nasional ber brand Padi Unggul Indonesia apakah bisa mengurai keruwetan tersebut? apalagi bisa mengkatrol pendapatan perkapita petani

Mekanisme yang dilakukan padi unggul ternyata hanya membeli gabah basah yang dimiliki petani dengan bandroll perusahaan itu sendiri. Ingat yang di beliadalah gabah basah, berarti harhanya dibawah gabah kering, sedangkan proses pengeringan akan mereka usahakan sendiri dengan mesin mesin dryer nya. Namun yang perlu di ingat adalah jika semua gabah telah terbeli oleh perusahaan itu, berarti ada kontrol yang mungkin akan dilakukan sehingga pasaran bisa dikendalikan oleh perusahaan tersebut.

Jika saja kontrol jumlah beras dipasaran dilakukan oleh komprador komprador seperti itu apa jadinya rakyat kecil termasuk petani.

Add comment January 2, 2010

m u p e n g

Liat cowok cewek seromantis itu,,,, ada sunsete ala pantai kute (padahal di parang triris)

Pengen ga?

3 comments December 29, 2009

Gedung Kolonial di daerah Jogjakarta

Sebelum memasuki area Kraton Jogjakarta kita lebih dulu disambut oleh beberapa gedung yang dibangun pada era kolonial. Diantaranya adalah gedung BNI 46, Kantor Pos dan Gedung Bank Idonesia.

Dulu saat konfrontasi Kesultanan Mataram masih berlangsung, Kompeni tidak dapat meluaskan kegiatan berdagang dan meluaskan wilayah jajahannya di jawa pedalaman.

Konfrontasi berkepanjangan itu di pimpin oleh Sultan Agung, yang mendapat gelar Penatagama, gelar dari Mekah. Benturan benturan fisik juga terus berlangsung. Kalah saat menyerang VOC di Batavia tidak menyurutkan niat nya untuk menyatukan Jawa dalam satu imperim, yaitu MAtaram. Yang diklaim Oleh pendiri pendiri mataram sebagai dinasti keturunan dari Majapahit dan Singosari.

Namun Saat Sultan Agung Wafat, dan gelar sultan di lanjutkan oleh Aria Mataram, hal ini berubah seratus delapan puluh derajat. Aria Mataram tidak punya nyali menghadapi Kompeni. Justru Aria Mataram terlena dengan berbagai upeti yang di bawakan Lompeni dari Batavia untuk sekedar oleh oleh.

Bagi Kompeni dengan menyetor beberapa pistol sundut, emas berlian, kuda persia adalah hal yang remeh. Namun membawa dampak yang menguntungkan bagi Kompeni, VOC sebagai lembaga dagangnya dapat meluaskan hak hak istimewa, hak hak monopoli, hak dagang di daerah pedalaman Jawa.

Bagi Aria Mataram, tidak terlalu merugikan, dengan mengkorbankan rakyat kecil di daerah pesisir seperti jepara, Semarang  untuk menyetor beras, bahan makanan, kepada kompeni. Asal dia diakui sebagai raja atasan Kompeni.

Add comment December 29, 2009

Car Free Day Kota Ngawi

Di Acara Car Free Day Kota Ngawi.

Dalam Helatan Acara ini banyak hal yang tidak terjadi di hari hari biasa, bisa saja terjadi dalam acara ini. Misalkan saja, saling bertegur sapa pada saat bersama berolahraga.

Bertemu dengan para petugas DLLAJR, Pak Polisi, sebagai petugas yang mengamankan acara ini, menutup akses kendaraan yang masuk area Car Free Day.

Suara bising juga tidak ada, yang terdengar dari pagi adalah derai canda anak bermain bola, suara burung, sunyi beraroma segar.

Bagi Para peminat olahraga jangan lewatkan helatan acara ini. Setiap hari minggu sampai bulan januari 2010. Yang pasti jangan jangan membawa kendaraan bermotor, tapi gunakanlah sepeda, atau bewrjalan kaki.

Add comment December 29, 2009

Jalur pendakian Gunung Lawu

Pendakian pada gunung Lawu 3165 mDpl dapat melalui 3 jalur. Jalur selatan yaitu melalui Cemoro Sewu, Jalur Barat melalui Cemoro Kandang, dan Jalur yang terakhir adalah jalur yang jarang sekali di lalui oleh orang pada umumnya hanya warga Ngawi pada kususnya. Yaitu jalur Srambang

Kita kupas satu persatu jalur ini. Yang pertama bagi anda yang berangkat dari Jawa timur, tentu saja perjalanan kendaraan di awali dengan manaiki bus dari terminal Maospati hingga terminal Magetan. waktu tempuh sekitar 30 menit. Jalan jalan menyusuri sesawahan padi. Hingga sedikit masuk ke kota Magetan hawa sudah beranjak sejuk. Di kota ini produk andalan nya adalah kerajinan kulit, dan tentunya ada banyak sekali barang yang bisa kita buru pada pasar sentra industri lokal. Ada tas, sabuk, sepatu dan pernak pernik lainya seputar kulit. Dari terminal magetan kita musti oper terlebih dahulu dengan naik mobil L300, menuju Ngerong (Pusat penjualan sayur mayur), melalui telaga Sarangan (telaga paling keren di seputran Ma Pan Ma Wi Rogo). dan berakhir di Cemoro sewu, yang merupakan pos pemberangkatan dari sisi selatan. Nah sekarang kita membahas medan cemoro sewu hingga puncak. Awal pendakian jalan masih lebar dan agak datar, setelah memasuki pos 1 barulah tanjakan demi tanjakan menantang di depan kita. Jalanpun juga semakin menyempit. Pepohonan di sekitar pos 1 hingga pos 3 masih sama yaitu pinus dengan di selingi pohon perdu. Namun sayang sekali pada kanan kiri jalan, dari Cemoro sewu hingga pos 1 telah di babat menjadi ladangpenanaman kobis dan wortel. Sedangkan pepohonannya rata rata telah banyak yang mati. Pada pos 1 hingga pos 2 bau menyengat keluar dari bebatuan yang mengandung belerang, adapun tempatnya masuk ke dalam hutan manjauhi jalan. Tanjakan semakin ngetrek saat meninggalkan pos 2 hingga pos 4. barulah setelah pos 4 tumbuhan perdu yang ada pada ketinggian 2600 mdpl memenuhi lembah dan ngarai. Daerah di sekitar pos lima sering di sebut dengan Cokro Suryo, Cokro Srengenge, yaitu hamparan rumput yang luas seperti alun alun. Masuk pada jalan berikutnya sudah tidak terlalu ngetrek kita memasuki daerah sumur Jolotundo, yaitu sebuah sumur berupa gua vertikal dan terdapat sumber air yang kecil di dalam nya. Konon ada cerita jika kita masuk dan mengadahkan mulut menghadap ke atas, dan secara kebetulan tenggorokkan kita ter tetesi oleh air yang menetes dari langit langit gua, maka kita akan di beri limpahan sejeki oleh yang maha kuasa. Selang beberapa puluh meter dari sumur Jolotundo kita akan sampai pada sebuah sendang, dengan nama sendang Derajat. Air terang saja melimpah di sendang yang ini, bahkan di samping sendang di bangunkan beberapa toilet umum. Dan juga banyak sekali pedagang nasi pecel musiman yang sengaja berdagang keperluan makan saat musim pendakian seperti bulan Suro kali ini. Berikutnya kita melingkari bawah puncak gunung untuk sampai pada Hargo Dalem, sebuah petilasan Prabu Brawijaya ke V, dan sebuah makam sunan Lawu. Di wilayah Hargo Dalem biasanya sangat ramai sekali, mengingat di daerah ini banyak sekali rumah rumahan yang di buat para pedagang musiman, dan memang di bikinkan rerumahan namanya Kandang Jaran atau Gedogan untuk para peziarah di petilasan Prabu Brawijaya ke V, dan sebuah makam sunan Lawu. Nah pada pagi harinya barulah kita akan melanjutkan perjalanan untuk mencapai puncak Gunung Lawu , Hargo Dumilah dengan ketinggian 3165 meter di atas permukaan laut. Di puncaknya di bangun tugu trianggulasi, dan banyak sekali sesembahan berupa dupa, kembang dan beberapa makanan, ntah untuk siapa. Dari puncak ini kita bisa melihat ke arah timur yaitu gunung Wilis, dan jika saja cuaca lagi bagus bagusnya kita bisamenyaksikan ke agungan gunung Semeru, Gunung Arjuno. Jika melihat ke arah barat bisa di lihat gunung Merapi dan gunung Merbabu.

Jalur Cemoro kandang. Dan bagi anda yang ingin mendaki dari Jawa Tengah dan Jogja. Bisa menaiki bus dari terminal Solo, melewati Palur dan Karanganyar, dan bus berakhir di Tawangmangu (terkenal dengan gerojokan sewu nya) Dari Tawangmangu berganti kendaraan pickup bertutup, atau naik L300, untuk menuju ke Cemoro Kandang. Dalam perjalan mata kita selaui manatap hamparan sesawahan kobis, wortel dan kentang, dipinggir pinggir jalanya pun ada beberapa warga yang mencuci hasil panen di saluran air pinggir jalan. Sesampainya di Cemoro kandang biasanya kita terlebih dahulu beristirahat sejenak, minum kopi ataupun hanya sekedar mengobrol saja. Karena di Cemoro Kandang terdapat lebih banya warung dari pada di Cemoro Sewu. Sepanjang jalur dari Cemoro Kandang menuju puncak jalur tidak ngetrek, namun cenderung melingkar dan menyusuri lereng bukit (kalo cmr sw melalui punggung bukit) hingga pos 2 bau dari belerang sangat menyengat, tumbuhan dari pos 1 hingga pos 4 adalah tanaman lamtoro gunung, pinus dan pakis, di selingi tanaman perdu gunung. Hingga memasuki Jurang Pangariparip jalan selalu menyusuri lereng, namun jika anada tak ingin berjalan melingkar anda bisa langsung melewati jalan sidatan, ngetrek dan kalo turun hujan jalur ini akan di lewati air bah pegunungan. Ssampai pada pos 4 nanti tumbuhan sudahmulai jarang, dan di gantikan rerumputan gunung, Cokrosrengenge lebih luas melalui jalur ini, hamparan rumput menghampar hingga nanti bertemu dengan jalur dari Cemoro Sewu, di daerah HargoDalem, Anda akan memasuki daerah pasar Dieng, yaitu hamparan padang edelweis di selinggi bebatuan yang tertata rapi, menurut mitos pasar Dieng adalah pasarnya Setan. Jika melihat ke arah utara yaitu Sisi Pasar Dieng mata kita pasti akan tertuju pada sebuah bukit yang memiliki menara BTS, yaitu bukit Hargo Kahyangan. Melaui sisi sebelah timur bukit HargoKahyangan inilah kita bisa melewati jalur pendakian dari sisi Utara (Ngawi)

2 comments December 29, 2009

Previous Posts


Recent

Tag

blog Candi Cerpen curhat foto Olah Raga Pertanian Poem Resensi Sejarah sosial Tenaga Kerja Travelling Visual Art

komunita bloger

menerima pemesanan : pintu lipat, pager, pengelasan, instalasi listrik dan lain lain

me ?

u b e r a l e s

Top Posts

imajimaya

wp-admin

kalender

February 2010
M T W T F S S
« Jan    
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728